Kartini Blue Bird, Berikan Pelatihan Keterampilan untuk Difabel

kartini-blue-bird-10
kartini-blue-bird-7
Kartini Blue Bird, program CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT Blue Bird TBk bergerak di bidang sosial kepada masyarakat berupa pemberdayaan perempuan dan entrepreneurship, menyelenggarakan pendidikan keterampilan untuk kaum difabel berupa, menjahit, membuat kue, kerajinan kulit, serta melukis di mug dan sepatu. Acara berlangsung di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (12/11).

Program pelatihan ini sekaligus memperingati HUT Kartini Blue Bird ke-2, pada 6 November 2016, dengan memberikan aneka ketrampilan bagi para penyandang difabel agar mereka mampu mandiri dan produktif. Program pelatihan ini bekerja sama dengan beberapa Yayasan Difabel di Jakarta, salah satunya Yayasan Sampaguita yang diikuti 120 peserta.
Koordinator Blue Bird Peduli, Noni Purnomo mengatakan pada awalnya Program CSR Kartini Blue Bird merupakan program internal dari perusahaan untuk istri-istri dan anak perempuan Pengemudi Blue Bird. “Namun, sejalan dengan waktu, kamipun ingin berbagi kepada masyarakat luas, salah satunya saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan, agar mereka bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Noni Purnomo.

Terkait dengan itu, Noni berharap, teman teman difabel tidak hanya berhenti belajar di rangkaian workshop ini. “Kami sangat terbuka untuk teman teman difabel mengikuti workshop kami yang lainnya yang rutin akan diadakan setiap akhir pekan agar lebih meningkatkan keterampilannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Noni berpesan kepada peserta pendidikan dan pelatihan ini, agar mereka tetap bersemangat dalam mengarungi kehidupan ini. “Jangan merasa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai sesuatu yang buruk, karena Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Kita tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, dan akan seperti apa. Kita harus yakin dan selalu berprasangka baik kepada Tuhan, agar setiap jalan yang kita lalui selalu mendapat berkah. Dengan segala kasih sayangNya, saya yakin, Tuhan akan menberikan jalan keluar, asal kita tetap berusaha dan tidak putus asa dengan cara yang baik, halal,” ungkap Noni.

Sementara itu, Thie Santoso, dari Yayasan Sampaguita, berlokasi di Meruya, Jakarta Barat bergerak di bidang sosial, khusus difabel menceritakan, dulu ia melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, namun selalu ditolak karena keterbatasannya. “Belajar dari pengalaman ini saya berpikir untuk mendirikan yayasan bertujuan mendorong teman-teman difabel, salah satunya agar memiliki keterampilan dan menggunakannnya untuk berwirausaha. Setelah beberapa kali bertemu dengan teman-teman difabel, menurut pengamatan saya. Sebenarnya mereka lebih detail dan tekun untuk membuat kerajinan tangan. Mungkin ini berkah dari Tuhan YME,” ungkap Thie.

BlueBirdApps

My Blue Bird

New My Blue Bird App is now available with the latest feature
to make your journey even more comfortable.